Senin, 18 April 2016

Investasi Sektor Riil dan Investasi Sektor Non Riil dalam Perspektif Islam

A. Pandangan Ekonomi Islam terhadap Investasi Sektor Riil

Investasi sektor riil menurut syariat islam merupakan sarana investasi yang sangat tepat untuk dijadikan piihan para investor bahkan harus dijadikan pilihan yang utama untuk berinvstasi dibandingkan sektor non rill. Bahkan menurut sebagian ulama ada yang menyatakan bahwa dalam syariat Islam tidak dikenal mengenai investasi  non riil dan yang dikenal hanya investasi sektor riil .
Berinvestasi di sektor riil memang memiliki resiko yang cukup lumayan besar selain itu untuk diperlukan modal yang cukup besar akan tetapi jika dikelola dengan benar dan tanggung jawab serta tidak keluar dari syarait islam akan dipastikan hasilnya dapat langsung terlihat  dengan berinvestasi di sektor riil hasilnya dapat dilihat langsung secara nyata dan juga barokah.
Menurut perspektif Islam, untuk menentukan pilihan investasi jangan hanya dipikirkan mengenai keuntungan yang akan didapat, akan tetapi harus dipikirkan halal dan haramnya  sehingga tidak melanggar aturan- aturan syariat Islam selain itu juga harus dipikirkan manfaatnya untuk orang lain tidak hanya memikirkan untuk kepentingan sendiri maksudnya  dalam aktivitas  investasi harus ada motifasi sosial yakni membantu masyarakat yang tidak memiliki modal  namum memiliki kemampuan berupa keahlian dalam menjalankan usaha.
Dasar ekonomi islam lebih menitik beratkan kepada investasi di sektor riil dengan tujuan untuk mastikan agar harta kekayaan tidak ditimbun sebaiknya harta kekayaan tetap  dimanfaatkan atau diputar dengan secara luas, dan juga melarang adanya riba terhadap  kepemilikan harta kekayaan tetap, dan  dengan berinvestasi disektor riil tentunya riba akan terhindarkan.  Dan seandinya pun masih ada yang menyimpan uang di bank dengan menabung maka jangan terdapat bunga, dan uang yang disimpan di bank tersebut  sebagai tabungan  harus disalurkan ke sektor riil  dengan bentuk kerja sama  dan bagi hasil.
Akan tetapi pada kenyataannya manusia  memiliki sifat yang serakah dan  sehingga bentuk – bentuk  investasi dengan kerjasama atau berupa bagi hasil tersebut manusia tidak menyukainya hal ini dikarenakan manusia lebih puas menikmati hasilnya secara penuh  tidak mau berbagi sebagian hasilnya dengan para pemberi modal atau partner bisnis. Dan seandainya mereka tidak memiliki modal mereka lebih menyukai meminjam uang dengan bunga lebih ringan dan kecil dari pada memberikan sebagian hasilnya oleh pemiilik modal.
B. Pandangan Ekonomi Islam Terhadap Investasi Sektor Non Riil
Pertumbuhan dan perkembangan perekonomian didunia sangat tidak seimbang dimana, pertumbuhan sektor non riil melesat jauh perkembangannya dibandingkan pertumbuhan sektor  riil, hal  ini disebabkan dengan maraknya  arus uang yang diperjual belikan di picu lagi dengan  banyaknya bisnis spekulasi dunia pasar modal.
Menurut ekonomi Islam pertumbuhan perekonomian sektor non riil yang pesat   tersebut hanyalah pertumbuhan ekonomi yang rapuh karena didalamnya tidak ada kekuatan apapun didalamnya hampa dan kosong sehingga sangat rawan kegagalan. Hal ini disebabkan yang beredar dipasaran atau yang tumbuhnya bukan barang atau jasa akan tetapi uang. Sedangkan menurut ekonomi Islam pertumbuhan perekonomian suatu negara tidak bisa  hanya didasarkan pada  banyaknya jumlah uang yang beredar akan tetapi  harus adanya keseimbangan antara beredarnya uang dipasaran dengan barang dan jasa. Padahal Islam sangat melarang segala jenis yang berhubungan dengan jenis transaksi di pasar uang, disebabkan uang bukanlah komoditas untuk diperdagangkan  akan tetapi Islam sangat mendorong umatnya untuk melakukan perdagangan berbentuk barang dan jasa.
Tidak bisa dipungkiri bahwa saat ini masyarakat sangat terpesona dengan investasi yang berbasis non rill hal ini disebabkan tergiurnya dengan keuntungan yang ditawarkan yaitu berupa bunga yang cukup lumayan besar disamping itu untuk berinvestasi disektor  non riil tidak harus bermodalkan besar dengan modal kecil pun masyarakat sudah bisa untuk berinvestasi, sehingga banyak masyarakat yang  menginvestasikan uangnya ke sektor non rill  dibanding ke sektor riil. Padahal secara Jelas  Islam sangat melarang bahkan mengharamkan transaksi jual beli yang berbasis riba.

Pada prinsipnya Islam sangat menganjurkan umatnya untuk melakukan aktifitas ekonomi (muamalah) dengan cara yang benar dan baik tentunya juga harus sesuai dengan syariat Islam. Selain itu  Islam sangat melarang  penimbunan barang, membiarkan harta (uang ) menjadi tidak produktif, dan islam mengharuskan setiap ativitas ekonomi harus dilakukan untuk meningkatkan ekonomi umat, yang selain tujuannya untuk memperoleh keuntungan (falah) baik materi maupun non materi dunia dan akhirat.Disamping itu Segala bentuk aktivitas ekonomi berupa investasi haruslah berdasarkan suka sama suka, berkeadilan dan tidak saling merugikan (la dharara wa la dhirara).

#KangDwi

Rabu, 16 Maret 2016

PANGGUNG ARENA SABUNG??

Setiap adanya hajat Pilkades, Pilkada, Pilpres di negeri ini tak ubahnya seperti panggung arena tinju, gulat atau bahkan sabung ayam. Bagaimana tidak para pendukungnya dan tim sukses sbg promotor mengelu-elukan jagonya yakin akan menang . Mereka berusaha memamerkan kehebatanya dan menutupi kekuranganya.
Pun mereka juga adu yel yel dan adu jargon- jargonnya. Kadang sampai mematikan nalarnya seolah terhipnotis olehnya. Lebih mengherankan lagi itu terjadi pada orang-orang notabene berpendidikan tinggi, berilmu tinggi ada sebagai Sarjana, Master, Doktor, Profesor.
Dan di dalamnya para pendukung ada perjudian mengikuti di arena tersebut. Tak heran kalau para pemenang  adalah bak para juara yg berhak memegang sabuk juara...ketimbang sebagai seorang paling bijaksana memegang amanah.

Minggu, 13 Maret 2016

Bahayanya infra beragama dan ultra beragama

Beragama itu ya pasti bercahaya, ibarat cahayanya yang putih jika dibiaskan jadi warna-warni me-ji-ku-hi-bi-u (merah,jingga,kuning,hijau,biru,ungu). Kalo beragamanya masih berwarna ya ga akan menyusahkan, menyulitkan hidup tapi bahkan akan memberi petunjuk hidup lebih mudah dan nyaman penganutnya dan sekitarnya jadi indah.

Yang jadi masalahnya yang beragama di luar me-ji-ku-hi-bi-u yang bikin rumit permasalahan. Seperti warna dibawah merah alias infra merah atau warna diatas ungu alias ultra ungu atau ultra violet yang merusak hidup mengganggu kenyamanan alam dunia ini.

Di istilahkan manusia yang infra beragama (inferior pada agama atau gagal faham agama) dan ultra beragama (berlebihan merasa paling super dalam beragama alias timbul kesombongan beragama) yang bikin tatanan kehidupan jadi ruwet, rumit, amburadul alias acak kadut.

Dan anehnya ya ga keliatan mata beragama seperti itu ya seperti sifat warna infra merah dan ultra ungu. Merekapun tentu ga mau dikenali.

Saking bahayanya ya kaya gerhana matahari yg lalu kita ga boleh liat langsung karena bahayanya sinar infra merah dan ultra ungu.Begitupun berbahayanya infra beragama dan ultra beragama.


Selasa, 08 Maret 2016

SYARAT PEMIMPIN


Syarat-syarat seorang pemimpin menurut Islam.

Setiap manusia yang terlahir dibumi dari yang pertama hingga yang terakhir adalah seorang pemimpin, setidaknya ia adalah seorang pemimpin bagi dirinya sendiri. Bagus tidaknya seorang pemimpin pasti berimbas kepada apa yang dipimpin olehnya. Karena itu menjadi pemimpin adalah amanah yang harus dilaksanakan dan dijalankan dengan baik oleh pemimpin tersebut,karena kelak Allah akan meminta pertanggung jawaban atas kepemimpinannya itu. Dalam Islam sudah ada aturan-aturan yang berkaitan tentang pemimpin yang baik diantaranya :

1. Beriman dan Beramal Shaleh

Ini sudah pasti tentunya. Kita harus memilih pemimpin orang yang beriman, bertaqwa, selalu menjalankan perintah Allah dan rasulnya. Karena ini merupakan jalan kebenaran yang membawa kepada kehidupan yang damai, tentram, dan bahagia dunia maupun akherat. Disamping itu juga harus yang mengamalkan keimanannya itu yaitu dalam bentuk amal soleh. 

2. Niat yang Lurus

 “Sesungguhnya setiap amal perbuatan tergantung pada niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) sesuai dengan niatnya. Barangsiapa yang hijrahnya karena Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan barangsiapa yang hijrahnya karena urusan dunia yang ingin digapainya atau karena seorang wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya sesuai dengan apa yang diniatkannya tersebut” Karena itu hendaklah menjadi seorang pemimpin hanya karena mencari keridhoan ALLAH saja dan sesungguhnya kepemimpinan atau jabatan adalah tanggung jawab dan beban, bukan kesempatan dan kemuliaan.

3. Laki-Laki

Dalam Al-qur'an surat An nisaa' (4) :34 telah diterangkan bahwa laki laki adalah pemimpin dari kaum wanita. “Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum wanita, oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka. Sebab itu maka wanita yang saleh ialah yang ta’at kepada Allah lagi memelihara diri (maksudnya tidak berlaku serong ataupun curang serta memelihara rahasia dan harta suaminya) ketika suaminya tidak ada, oleh karena Allah telah memelihara “ “Tidak akan beruntung suatu kaum yang menyerahkan urusan (kepemimpinan) mereka kepada seorang wanita.”(Hadits Riwayat Al-Bukhari dari Hadits Abdur Rahman bin Abi Bakrah dari ayahnya).

4. Tidak Meminta Jabatan

Rasullullah bersabda kepada Abdurrahman bin Samurah Radhiyallahu’anhu, ”Wahai Abdul Rahman bin samurah! Janganlah kamu meminta untuk menjadi pemimpin. Sesungguhnya jika kepemimpinan diberikan kepada kamu karena permintaan, maka kamu akan memikul tanggung jawab sendirian, dan jika kepemimpinan itu diberikan kepada kamu bukan karena permintaan, maka kamu akan dibantu untuk menanggungnya.” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

5. Berpegang pada Hukum Allah

Ini salah satu kewajiban utama seorang pemimpin. Allah berfirman, ”Dan hendaklah kamu memutuskan perkara diantara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka.” (al-Maaidah:49).

6. Memutuskan Perkara Dengan Adil

Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin mempunyai perkara kecuali ia akan datang dengannya pada hari kiamat dengan kondisi terikat, entah ia akan diselamatkan oleh keadilan, atau akan dijerusmuskan oleh kezhalimannya.” (Riwayat Baihaqi dari Abu Hurairah dalam kitab Al-Kabir).

7. Menasehati rakyat

Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin yang memegang urusan kaum Muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasehati mereka, kecuali pemimpin itu tidak akan masuk surga bersama mereka (rakyatnya).”

8. Tidak Menerima Hadiah

Seorang rakyat yang memberikan hadiah kepada seorang pemimpin pasti mempunyai maksud tersembunyi, entah ingin mendekati atau mengambil hati.Oleh karena itu, hendaklah seorang pemimpin menolak pemberian hadiah dari rakyatnya. Rasulullah bersabda, ” Pemberian hadiah kepada pemimpin adalah pengkhianatan.” (Riwayat Thabrani).

9. Tegas

Ini merupakan sikap seorang pemimpin yang selalu di idam-idamkan oleh rakyatnya. Tegas bukan berarti otoriter, tapi tegas maksudnya adalah yang benar katakan benar dan yang salah katakan salah serta melaksanakan aturan hukum yang sesuai dengan Allah, SWT dan rasulnya. 

10. Lemah Lembut

Doa Rasullullah : "Ya Allah, barangsiapa mengurus satu perkara umatku lalu ia mempersulitnya, maka persulitlah ia, dan barang siapa yang mengurus satu perkara umatku lalu ia berlemah lembut kepada mereka, maka berlemah lembutlah kepadanya"

Selain poin- poin yang ada di atas seorang pemimpin dapat dikatakan baik bila ia memiliki STAF. STAF disini bukanlah staf dari pemimpin, melainkan sifat yang harus dimiliki oleh pemimpin tersebut. STAF yang dimaksud di sini adalah Sidiq(jujur), Tablig(menyampaikan), amanah(dapat dipercaya), fatonah(cerdas) Sidiq itu berarti jujur.

Bila seorang pemimpin itu jujur maka tidak adalagi KPK karena tidak adalagi korupsi yang terjadi dan jujur itu membawa ketenangan, kitapun diperintahkan jujur walaupun itu menyakitkan.Tablig adalah menyampaikan, menyampaikan disini dapat berupa informasi juga yang lain. Selain menyampaikan seorang pemimpin juga tidak boleh menutup diri saat diperlukan rakyatnya karena 

Rasulullah bersabda, ”Tidaklah seorang pemimpin atau pemerintah yang menutup pintunya terhadap ke butuhan, hajat, dan kemiskinan kecuali Allah akan menutup pintu-pintu langit terhadap kebutuhan, hajat, dan kemiskinannya.” (Riwayat Imam Ahmad dan At-Tirmidzi). Amanah berarti dapat dipercaya.

Rasulullah bersabda, ” Jika seorang pemimpin menyebarkan keraguan dalam masyarakat, ia akan merusak mereka.” (Riwayat Imam Ahmad, Abu Dawud, dan Al-hakim). Karena itu seorang pemimpin harus ahli sehingga dapat dipercaya.Fatonah ialah cerdas. Seorang pemimpin tidak hanya perlu jujur, dapat dipercaya, dan dapat menyampaikan tetapi juga cerdas. Karena jika seorang pemimpin tidak cerdas maka ia tidak dapat menyelesaikan masalah rakyatnya dan ia tidak dapat memajukan apa yang dipimpinnya.

Setelah kita mengetahui sebagian ciri- ciri pemimpin menurut islam. Marilah kita memilih dan membuat diri kita mendekati bahkan jika bisa menjadi seperti ciri- ciri pemimpin diatas karena kita merupakan Mahasiswa dan sebagai penerus bangsa.
x